Blog ini berisikan ilmu yang positif yang baik bagi seseorang yang mau maju dan berkembang, salam perubahan.
Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan
Selasa, 30 April 2013
Hubungan antara naskah iklan dengan keputusan pembelian menurut Setiadi
Hubungan antara naskah iklan dengan keputusan pembelian menurut Setiadi (2003 : 16 ) yaitu :
“proses keputusan pembelian konsumen dimulai dengan pengenalan maalah atau kebutuhan. Konsumen menyadari suatu perbedaan antara keadaan yang sebenarnya dan keadaan yang diinginkan. Kebutuhan dapat digerakan dengan stimulasi internal ( sperti rasa haus, lapar danlainnya ) dan stumulasi eksternal ( seperti nashkan dan pajangan produk).
Pengaruh Iklan Terhadap Proses keputusan Pembeli
Pengaruh Iklan Terhadap Proses keputusan Pembeli
Umumnya tujuan dalam kampanye iklan bersumber pada tujuan dibidang pemasaran. Dan tujuan dibidang pemasaran bersumber pada tujuan perusahaan secara keseluruhan. Suatu tujuan bidang periklanan yang lebih baik memang seharusnya mampu menunjukan hubungan terhadap tujuan penjualan. Namun demikian, mengatakan bahwa iklan dapat secara langsung mempengaruhi tingkat penjualan ( sama seperti menyatakan memaksimumkan keuntungan ) sebenarnya juga tidak bersifat operasional.
Kemampuan iklan untuk menciptakan sikap yang menyokong terhadap suatu produk mungkin sering bergantung pada sikap konsumen terhadap iklan itu sendiri. Iklan yang disukai atau dievaluasi secara menguntungkan dapat menghasilkan sikap lebih positif terhadap produk iklan yang tidak disukai mungkin menurunkan evaluasi produk oleh konsumen. Penelitian memperlihatkan secara berulang-ulang bahwa sikap terhadap suatu iklan berfungsi sebagai peramal yang signifikan atas sikap terhadap produk.
Ini bukan berarti bahwa konsumen harus selalu menyadari suatu iklan agar iklan tersebut efektif, barangkali ada iklan yang tidak disukai tetapi tetap saja berhasil. Sebenarnya pengiklan kadang sengaja membuat iklan yang mengganggu dengan harapan pesannya dapat menerobos kerumunan.
Pemasar meluncurkan suatu iklan kepada khalayak melalui berbagai media untuk memperoleh respon atau tanggapan dari konsumen. Tanggapan terakhir tentu saja pembelian ( pemilihan ), namun pemilihan ini merupakan akhir dari proses panjang dari pengambilan keputusan sebagaimana telah diuraikan dalam tahap-tahap proses keputusan pembelian.
Tahap-tahap proses pengambilan keputusan pembelian
a. Pengenalan Masalah
Seseorang merasakan adanya stimuli untuk membeli sesuatu. Stimuli ini bias dating dari dalam (internal), misalnya seseorang merasa lapar atau karena dorongan dari luar (eksternal), misalnya ingin mentraktir teman, atau karena factor iklan makanan tertentu.
b. Pencarian Informasi
Ini berkaitan dengan mau membeli apa, model bagaimana, dimana dan sebagainya, maka seseorang mencari informasi yang dapat diperoleh dari sumber pribadi seperti family,teman,tetangga. Dari sumber komersial seperti media massa, Koran, televise,dan radio. Dan dari pengalaman masa lalu, pernah menggunakan suatu produk, atau melihat produk tersebut.
c. Evaluasi Alternative
Tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merk-merk alternative dalam satu susunan pilihan.
d. Keputusan Membeli
Dalam tahap evaluasi, konsumen membuat peringkat atas merk dan membentuk niat untuk membeli. Biasanya keputusan pembelian konsumen adalah membeli merk yang paling disukai, tetapi dia factor dapat muncul antara niat untuk membeli dan keputusan pembelian. Factor pertama adalah sikap orang lain, factor kedua aalah factor situasi yang tidak diharapkan.
e. Perilaku pasca pembelian
Tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan kepuasan atau ketidakpuasan yang mereka rasakan.
Tahap-tahap proses pengambilan keputusan pembelian
Tahap-tahap proses pengambilan keputusan pembelian
Proses pembelian yang spesifik terdiri dari urutan kejadian, yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternative, keputusan pembelian dan perilaku pasca pembelian.
jenis-jenis perilaku pembelian
jenis-jenis perilaku pembelian
Pengambilan keputusan konsumen bervariasi dengan jenis keputusan pembelian. Berdasarkan tingkat keterlibatan konsumen dalam pembelian dan tingkat perbedaan antara mer, menurut Kotler ( 2000 : 202 ) perilaku pembelian dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu :
1. Perilaku pembelian kompleks
Konsumen melalui proses keputusan yang kompleks apabila mereka sangat terlibat dalam pembelian dan menyadari perbedaan yang nyata antara merk-merk yang berbeda. Konsumen akan sangat terlibat dalam pembelian jika barang tersebut mahal, jarang pembelinya, berisiko tinggi dan sangat memberikan kesan pribadi pembelinya.
2. Perilaku pembeli mengurangi perbedaan
Kadang kala konsumen sangat terlibat dalam pembelian tetapi tidak memperlihatkan perbedaan antara merk. Setelah pembelian konsumen akan membenarkan keputusannya. Peranan penting dari komunikasi pemasaran disini adalah berusaha member keyakinan atau kepercayaan atau evaluasi yang membentuk konsumen merasa puas atas pilihannya.
3. Perilaku pembelian berdasarkan kebiasaan
Banyak produk yang dibeli dengan kondisi ketelibatan konsumen rendah dan tidak ada perbedaan nyata antara merk. Disni iklan dilakukan berulang-ulang untuk membentuk pengenalan atas merk dan bukan keyakinan akan merk.
4. Perilaku pembelian yang mencari variasi
Diberbagai kondisi pembelian ada kalanya terdapat ketelibatan yang rendah dalam pembelian, namun banyak perbedaan antara merk. Konsumen biasanya banyak sekali melakukan pertukaran merk.konsumen melakukan penilaian selama pemakaian produk tersebut.
pihak-pihak yang terlibat dalam proses keputusan pembelian menurut Kotler
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proses keputusan pembelian menurut Kotler( 2000 : 202) adalah sebagai berikut :
1. Pengambil inisiatif ( intiator)
Pengambil inisiatif adalah orang yang pertama kali menyarankan atau mengusulkan gagasan untuk membeli produk.
2. Orang yang mempengaruhi ( influencer)
Seseoran yang memberikan saran atau pengaruh dalam keputusan pembelian sebenarnya atau pemakai barang atau jasa.
3. Pengambil keputusan ( decide)
Orang yang menentukan tiap-tiap atau seluruh keputusan pembelian, baik keputusan untuk membeli, keputusan apa yang dibeli, bagaimana membelinya dan dimana akan membeli.
4. Pembeli ( buyer )
Pembeli aedalah orang yang melakukan transaksi pembelian
5. Pemakai ( user )
Pemakai adalah orang yang berhubungan langsung dalam mengkonsumsi atau memakai barang atau jasa yang dibeli.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen dalam proses Keputusan Pembelian
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen dalam proses Keputusan Pembelian
Pada model perilaku pembeli terdapat beberapa factor yang mempengaruhi pembeli yaitu : budaya, social, pribadi dan psikologi. Pada factor-faktor tersebut terdapat sub-sub factor yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perilaku pembeli seperti yang dikemukakan kotler (2002 : 183), seperti di bawah ini :
1. Faktor budaya ( Budaya,sub budaya,kelas social)
2. Faktor social ( kelompok acuan, keluarga, peran,status)
3. Faktor pibadi( usia dan tahap siklus hidu, pekerjaan dan lingkungan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri)
4. Faktor psikologi ( motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan dan sikap)
tahap proses keputusan pembelian
Menurut Kotler (2002 : 162) proses keputusan pembelian adalah tahap-tahap yang dilewati pembeli untuk mencapai keputusan pembeli.
Definisi di atas pada intinya mengemukakan bahwa :
a. Keputusan pembelian merupakan tindakan pilihan dari evaluasi produk.
b. Keputusan pembelian merupakan tindakan keputusan daripada dua atau lebih pilihan alternative yang harus diambil.
proses keputusan pembelian Menurut Kotler dan Amstrong
Menurut Kotler dan Amstrong (2002 : 162) proses keputusan pembelian adalah suatu tahap yang harus dilewati oleh pembeli sebelum melakukan pembelian.
Pengertian Keputusan pembelian menurut tjiptono
Keputusan pembelian merupakan suatu tindakan pemilihan atas berbagai alternative yang dimiliki oleh consume, sebagaimana yang didefinisikan oleh Tjiptono (200 : 20-21) pengambilan keputusan merupakan proses yang dimulai dari pengenalan masalah yang dapat dipecahkan melalui pembelian beberapa produk.
Unsur unsur iklan
Unsur unsur iklan
1. Headline
Headline merupakan rangkaian kalimat atau kata-kata pendek, dan seringkali berupa slogan.
Macam-macam headline dan contohnya:
a. Pernyataan : ‘the world’s toughest tyre.’
b. Perintah : ‘buy your book at brown’s.’
c. Tawaran : ‘now only 99 p’.
2. Subjudul
Merupakan penulisan naskah iklan dengan membayangkan dan menggambarkan bentuk visual iklan yang digarapnya karena hali ini sangat membantu sekali terhadap kedain dan tipografi iklan.
Tujuannya adalah :
a. Menjaga kesan gerakan sehingga mata pembaca dapat diarahkan untuk tetap mengikuti dan membaca teks iklan
b. Menyediakan kekontrasan tipografi sebagaimana disebut diatas
c. Menekan nilai jual
3. Teks iklan
Isi iklan aau kalimat utama copy atau naskah iklan yang dicetak dengan menggunakan jenis huruf yang lebih kecil daripada baris display.
4. Harga.
Orang biasanya sangat peka terhadap harga, dan mungkin akan dijengkelkan oleh suatu iklan yang tidak mencantumkan, paling tidak mencantumkan harga yang terendah.
5. Nama dan alamat
Mungkin saja sudah cukup hanya dengan menyebutkan nama produk atau perusahaan pada iklan tersebut, didukung dengan logo, tetapi pengiklam lain ada yang mencantumkan alamat dan nama mereka dengan jelas. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar pembaca dapat mengenali mereka dengan jelas.
6. Kupon
Penulisan kupon merupakan pekerjaan yang lebih serius dari perkiraan sebelumnya dan hal itu tidaklah cukup hanya dengan mencantumkan nama dan alamat pengiklan saja
7. Signature slogan atau strapline
Ini adalah baris kalimat penutup (the pay-off line), dan hal ini dapat digunakan sebagai alat untuk menciptakan citra perusahaan
Naskah Iklan
Naskah iklan adalah Seni penulisan pesan penjualan atau kewiraniagaa (salesmanship) melalui media cetak agar pesan penjualan tersebut menarik perhatian , ketertarikan (interest), keinginan (desire), keyakinan (conviction) dan tindakan sebagaimana yang diinginkan.
Efektifitas Iklan
Pengendalian dan perencanaan iklan yang baik sangat tergantung pada efektivitas iklan. Pengukuran efektivitas sangat sulit, salah satu kesukarannya adalah ketidakmampuan untuk mengidentifikasikan hasil-hasil iklan tertentu.
1. Riset Dampak – Komunikasi
Berusaha untuk menentukan apakah suatu iklan berkomunikasi secara efektif. Disebut juga copy testing, riset itu dapat dilakukan sebelum iklan ditempatkan di media dan setelah dicetak atau disiarkan.
Ada tiga metode utama pengujian awal iklan, yaitu :
a. Metode penyusunan tingkat langsung, meminta konsumen untuk menyusun peringkat dari beberapa iklan. Hasil peringkat digunakan untuk mengevaluasi kekuatan perhatian, keterbacaan kognitif, efektif dan perilaku dari iklan itu.
b. Pengujian portofolio,meminta konsumen untuk melihat dan mendengarkan suatu kesimpulan dari berbagai ikaln, lama waktunya tergantung pada yang mereka inginkan. Konsumen kemudian diminta mengingat semua iklan dan sisinya, dibantu atau tidak dibantu oleh pewawancara. Level ingatan mereka menunjukan kemampuan iklan untuk mudah dibedakan dari yang lain.
c. Pengujian laboratorium menggunakan peralatan untuk mengukut reaksi, psikologi konsumen terhadap suatu iklan. Pengujian itu mengukur kemampuan iklan untuk menarik perhatian tetapi tidak mengungkapkan apapun mengenai pengaruhnya terhadap keyakinan, sikap atau minat.
2. Riset Dampak – Penjualan
Dampak pengaruh ikaln lebih sulit untuk diukur daripada dampak komunikasi. Penjualan dipengaruhi oleh berbagai factor selain iklan, seperti tampilan produk, harga, ketersediaan dan tindakan pesaing. Semakin sedikit factor faktor itu atau semakin terkendalinya factor tersebut berarti semakin mudah untuk mengukur dampak iklan pada penjualan. Dampak penjualan paling mudah diukur dalam situasi pemasaran langsung dan paling sulit diukur untuk iklan pembentukan citra mereka atau perusahaan. Periset berusaha mengukur dampak penjualan melalui analisis data historis atau data percobaan. Pendekatan historis, membuat korelasi antara penjualan lampau dengan pengeluaran iklan lampau dengan menggunakan teknik statistika canggih. Periset lainnya menggunakan rancangan percobaan untuk mengukur dampak penjualan dari iklan.
langkah-langkah dalam menentukan media iklan menurut Saladin
Pengiklan memilih media iklan untuk menyampaikan pesan. Adapun langkah-langkah dalam menentukan media iklan menurut Saladin ( 2002 : 132 ), adalah sebagai berikut :
a. Menetukan jangkauan, frekuensi serta dampak iklan
Pada dasarnya pemilihan media adalah masalah mencari cara dengan biaya yang paling efektif untuk menyampaikan sejumlah pembeberan yang dikehendaki kepada khalayak sasaran. Pengaruh pembeberan iklan terhadap kesadaran khalayak sasaran tergantung kepada jangkauan, frekuensi dan dampak iklan.
b. Memilih antara jenis-jenis media
Perencanaan media menjatuhkan pilihannya untuk memakai media tertentu berdasarkan beberapa variable, yaitu :
1. Kebiasaan media yang disenangi ileh khalayak ramai. Misalnya radio dan televise adalah media yang paling efektif untuk menarik perhatian khalayak ramai,
2. Produk
c. Memilih sasaran media tertentu
Audiens memiliki beberapa ukuran, yaitu :
1. Sirkulasi yaitu, jumlah unit fisik yang memuat iklan.
2. Audiens yaitu, jumlah orang yang dapat dicapai oleh saran itu ( jika sarana itu dapat diteruskan untuk dibaca orang lain, maka audiens lebih besar daripada sirkulasinya )
3. Audiens efektif yaitu, jumlah orang yang memenuhi criteria karakteristik audiens sasaran yang mendapat paparan oleh sasaran tersebut.
4. Audiens yang terpapar secara efektif yaitu, jumlah orang yang memenuhi criteria karakteristik audiens sasaran yang betul-betul melihat iklan tersebut.
d. Menentukan waktu media
Pola yang efektif tergantung pada tujuan komunikasi yang berkaitan dengan sifat produk, konsumen sasaran, saluran distribusi dan factor-fakto lainnya. Pola waktu harus memperhatikan tiga gaktor yaitu :
1. Perputaran pembeli yang menyatakan tingkat pembeli baru yang memasuki pasar, semakin tinggi angka itu, iklan seharusnya semakin berkesinambungan.
2. Frekuensi pembelian merupakan rata-rata berapa kali pembeli membeli produk tersebut dalam suatu periode. Semakin tinggi frekuensi pembelian, iklan seharusnya semakin berkesinambungan.
3. Tingkat kelupaan merupakan angka yang menunjukan tingkat kejadian diman p0embeli melupakan suatu merk, semakin tinggi angka itu, iklan seharusnya semakin berkesinambungan.
e. Menentukan alokasi geografis media
Perusahaan harus memutuskan bagaimana mengalokasi anggaran iklan berdasarkan ruang dan waktu.
Tahap menetapkan pesan iklan yg disampaikan
Pengiklanan melalui empat tahap dalam mengembangkan suatu strategi yang kreatif, yaitu :
1. Pembentukan Pesan
Pada dasarnya suatu pesan dari suatu produk harus direncanakan atau diputuskan pada saat konsei itu dikembangkan. Pesan produk mengungkapkan manfaat-manfaat utama yang ditawarkan produk tersebut. Tidak menutup kemungkinan pada suatu saat kperusahaan ingin membentuk pesan-pesan iklan tanpa harus mengubah itu, orang kreatif menggunakan berbagai metode untuk mencapai ide iklan guna mencapai tujuan iklan yang dilakuakn melalui pembicaraan dengan konsumen, penyalur, para ahli dan pesaing. Konsumen merupakan sumber penting untuk ide-ide iklan yang baik. Pendapat mereka mengenai kelebihan dan kelemahan produk merupakan kunci penting guna penyusunan strategi kreatif. Semakin banyak iklan yang dibuat, semakin tinggi kemungkinan perusahaan memperoleh iklan peringkat pertama. Tetapi ini diimbangi pula oleh besarnya biaya dan waktu yang dikeluarkan oleh perusahaan.
2. Evaluasi dan Pemilihan Pesan
Pembuat iklan harus mengevaluasi berbagai pesan-pesan iklan. Daya tarik yang digunakan dalam pesan-pesan ikaln harus memiliki tiga karakteristik, yaitu :
a. Daya tari ini menunjukan manfaat yang membuat konsumen lebih menyukai atau lebih tertarik pada produk itu.
b. Daya tarik itu khas, harus menyatakan apa yang membuat produk pembuat iklan lebih baik daripada produk-produk pesaing.
c. Seruan dalam pesan itu harus dapat dipercaya ini berarti bahwa pesan-pesan dalam iklan tersebut dinilai dari sifatnya yang membangkitkan keinginan, eksklusif dan masuk akal.
3. Pelaksanaan Pesan
Dampak pesan iklan tidak hanya tergantu pada apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana pesan itu disampaikan. Penyampaian pesan sangat menentukan bagi produk-produk yang hamper sama jenisnya. Pemasang iklan harus menyampaikan pesan agar bisa menarik perhatian dan minat khalayak sasaran. Pemasang iklaan biasanya mempersiapkan uraian strategi naskah ikaln ( copy strategy salesmen ) yang menggambarkan tujuan isi, dukungan bunyi iklan yang diinginkan.
4. Kaji Ulang
Agar bertanggung jawab secara social, pengiklan juga harus berhati-hati untuk tidak menyinggung kelompok etnik, ras minoritas atau kelompok kepentingan khusus.
Faktor yang menetapkan anggaran iklan
Adapun factor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan anggaran iklan yaitu :
1. Tahap Dalam Daur Hidup produk
Produk baru umumnya mendapat anggaran iklan yang besar untuk membangun kesadaran dan untuk menarik pelanggan agar mencoba produk tersebut. Merk yang sudah mapan hanya mendapat anggaran yang lebih rendah sebagai rasio terhadap penjualannya.
2. Pangsa Pasar Konsumen
Merk dengan pangsa pasar yang tinggi biasanya membutuhkan lebih sedikit biaya iklan sebagai presentasi terhadap penjualan guna mempertahankan pangsanya. Untuk membangun pangsa pasar dan meningkatkan ukuran pasar membutuhkan biaya iklan yang besar. Selain itu berdasarkan biaya perkesan dibutuhkan biaya lebih sedikit untuk mencapai konsumen dari merk yang digunakan secara luas daripada untuk mencapai konsumen dari merk yang pangsanya kecil.
3. Persaingan dan Gangguan
Dalam pasar dengan banyak pesaing dan pengeluaran iklan yang tinggi suatu merk harus diiklankan secara besar-besaran agar tetap terdengar ditengah pasar yang ramai tersebut. Bahkan gangguan sederhana dari iklan yang tidak bersaing secara langsung dengan merk tersebut sudah menyebabkan perlunya dilakukan iklan yang lebih besar.
4. Frekuensi Iklan
Jumlah perulangan yang dibutuhkan untuk menyampaikan pesan kepada konsumen juga sangat menentukan anggaran iklan.
5. Kemungkinan Penggantian Produk
Merk-merk jenis komoditi ( misalnya rokok, bir, minuman ringan ) membutuhkan iklan yang besar untuk membangun citra yang berbeda tersebut. Iklan juga penting jika suatu merk dapat member manfaat atau tampilan fisik yang unik.
Tujuan atau Sasaran Iklan
Pihak pemasang iklan perlu menentukan tujuan iklannya dan mengukur hasil yang dicapai dari iklan tersebut.
Menurut Kotler ( 2002 : 658 ), tujuan iklan dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Iklan Informasi
Menerangkan produk dalam tahap rintisan suatu produk untuk menciptakan permintaan pokok atas kategori tertentu misalnya, membertahu tentang produk baru, menganjurkan cara penggunaan baru untuk produk tertentu, memberitahu tentang perubahan harga, menjelaskan cara kerja suatu produk, menjelaskan jasa yang tersedia, mengurangi ketakuatan konsumen dan membangun citra perusahaan.
2. Iklan Persuasif
Penting dilakukan dalam tahap persaingan dimana sasaran perusahaan adalah menciptakan permintaan yang selektif dan merk tertentu. Tujuannya adalah membentuk permintaan selektif atas suatu merk tertentu. Beberapa iklan persuasive telah beralih ke jenis iklan perbandingan (comperative advertising ), yang membuat perbandingan eksplisit antara atribut-atribut dari dai atau lebih merk-merk.
3. Iklan Pengingat
Sangat penting untuk produk yang sudah mapan untuk ikalan yang berhubungan dengan tujuan itu adalah iklan penguat ( reinforcement advertising ), yang bertujuan untuk menyakinkan pembeli yang sudah ada bahwa mereka telah melakukan pilihan yang benar.
Dari pendapat diatas dikatakan bahwa semua tujuan iklan adalah mempengaruhi tingkat penjualan perusahaan dengan cara menyampaikan informasi hingga masuk kebenak pelanggan sekaligus mengubah dan atau menggiring tingkah laku mereka untuk mendapatkan produk yang diklankan, hal tersebut dilakukan agar masyarakat membeli produk tersebut.
Langkah-langkah dalam iklan
Manajemen pemasaran harus membuat lima keputusan penting ketika mengembangkan perencanaan program iklan. Lima keputusan utama dalam pembuatan program iklan, yang disebut 5M menurut Kotler ( 2000 : 658 ), yaitu :
1. Mission : Menetapkan dan tujuan iklan
2. Money : Menetapkan anggaran iklan
3. Message : Menetapkan pesan yang disampaikan
4. Media : Menetapkan media yang digunakan
5. Measurement : melakukan evaluasi terhadap hasil yang dicapai
Beberapa Jenis Iklan
Beberapa macam cara iklan dapat digolongkan atas cara penggunaanya oleh pimpinan perusahaan, karena prbedaan tersebut tergantung pada tujuan perusahaan dalam mengadakan atau menyelenggarakan program iklannya.
Menurut Swastha et al ( 2000 : 249-252 ) iklan dapat dogolongkan tergantung paa tujuan perusahaan dalam program iklannya. Disini iklan debagi dalam:
1. Iklan produk ( Product Advertising )
a. Iklan Kebutuhan Primer ( primary Demond Advertising )
Iklan yang berusaha untuk mendorong permintaan untuk suatu jenis produk secara keseluruhan, tanpa menyebutkan merk dan nama produsennya. Iklan ini seperti biasa dilakukan oleh gabungan pengusaha atau asosiasi perdagangan. Sebagai contoh “susu kental lebih sehat”
b. Iklan kebutuhan selektif ( selective Demand Advertising )
Iklan ini hampir sama dengan iklan kebutuhan primer hanya bedanya dengan iklan selektif adalah disebutkan merk barang yang ditawarkan sebagai contoh “susu kental indomilk lebih sehat”.
Selain iklan kebutuhan primer dan iklan kebutuhan selektif iklan juga dikelompokkan dalam :
a) Iklan Langsung
b) Iklan Tidak Langsung
Dalam kegiatan iklan langsung, penjualan menginginkan adanya tanggapan yang lebih cepat terhadap iklannya. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan kupon yang harus dikirimkan kembali dengan cepat oleh pembaca, untuk memperoleh keterangan-keterangan yang lebih terperinci tentang produk yang di iklankan. Sedangkan kegiatan iklan tidak langsung dibuat dibuat untuk mendoronga permintaan dalam periode waktu yang lama. Iklan ini dibuat untuk menyatakan kepada konsumen bahwa produk tersebut ada dan menguntungkan.
2. Iklan Kelembagaan
Iklan disebut juga Corporate Image Advertising dilakukan juga untuk menimbulkan rasa simpati terhadap penjual dan ditujukan untuk menciptakan goodwill / kepada perusahaan. Iklan kelembagaan ini dibagi tiga golongan yaitu :
a. Patronage Institutional Advertising
Dalam iklan penjual berusaha memikat konsumen dengan menyatakan suatu motif pembeli pada penjual tersebut dan bukannya motif pembeli peoduk tertentu. Misalnya pemberitahuan pengecer tantang pergantian jam kerja dari tokonya
b. Public Relation Institutional Advertising
Disini iklan dipakai untuk membuat pengertian yang baik tentang perusahaan kepada karyawan, pemilik perusahaan atau masyarakat umum misalnya perusahaan menyatakan akan mengurangi polusi yang ditimbulkan oleh pabriknya.
c. Public Service Institutional Advertising
Iklan ini menggambarkan tentang suatu dorongan kepada masyarakat untuk menggunakan kendaraan dengan hati-hati. Disini peusahaan asuransi dapat membantu dengan memberikan petunjuk bagi masyarakat dalam memilih kendaraan.
3. Iklan Nasional, Regional dan Lokal
Iklan juga dapat digolongkan menurut daerah geografis dimana kegiatan iklan tersebut dilakukan.
a. Iklan Nasional
Iklan ini biasanya disponsori oleh produsen dengan distribusi nasional. Jadi pasar yang dituju sebagai sasarnnya adalah pasar nasional dan media yang digunakan mempunyai sirkulasi secara nasional.
b. Iklan Regional
Iklan Regional adalah iklan yang terbatas dari suatu Negara, misalnya hanya meliputi daerah jawa saja. Biasanya dilakukan oleh penjual atau perusahaan yang mempunyai luas pasar pada skup regional.
c. Periklanan Lokal
Iklan Lokal biasanya dilakukan oleh pengecer dan ditujukan pada pasar local saja. Apabila dilakukan oleh pengecer maka nama tokonya lebih dipentingkan. Oleh sebab itu iklan sering dilakukan bersama-sama antara produsen dan pengecer.
4. Iklan Pasar
Iklan ini digolongkan atas sifat pasarnya. Dengan demikian jenis iklannya lebih tergantung pada sasaran yang dituju, apakah konsumen, perantara atau pemakai industry. Jenis iklan tersebut adalah :
a. Consumer Advertising
b. Trade Advertising, ditujukan kepada perantara dagang terutama pengecer.
c. Industrial Advertising, ditujukan kepada para pemakai industry.
Sedangkan jenis periklanan menurut Jefkins dalam Munandar ( 1997 : 395 ) secara garis besar digolongkan menjadi tujuh kategori pokok yaitu :
1. Iklan Barang Konsumen ( consumer Advertising )
Ikalan yang digunakan produsen yang memproduksi barang-barang konsumen, yaitu barang yang penjualannya bias berulang-ulang seperti makanan dan minuman ( merupakan kebutuhan sehari-hari ). Media yang paling cocok adalah media yang diminta secara luas ( dibaca oleh banyak lapisan social atau kelompok social ekonomi dalam masyarakat ) atau bias juga jurnal-jurnal yang cakupannya lebih khusus namun merangkul banyak orang misalnya majalah-majalah wanita.
2. Iklan Antar Bisnis ( Bisnis Advertising )
Iklan ini berguna untuk mempromosikan barang-barang dan jasa non konsumen, artinya baik pemasang maupun sasaran iklan sama-sama perusahaan. Produk yang diiklankan adalah bahan-bahan yang harus diolah atau menjadi unsure produksi. Misalnya bahan mentah, komponen suku cadang, fasilitas pabrik dan mesin serta jasa-jasa seperti asuransi. Media yang digunakan antara lain jurnal-jurnal perdagangan dan teknik, literature dan catalog teknik, pameran dagang, jasa pengiriman pos serta seminar demonstrasi.
3. Iklan Perdagangan ( Trade Advertising )
Iklan ini secara khusus ditujukan pada kalangan distribuot, pedagang-pedagang kalangan besar, para agen eksportir dan importer dan para pedagang besar dan kecil. Barang-barang yang diiklankan adalah barang-barang untuk dijual kembali. Media yang digunakan antara lain surat kabar, televise dan media perdagangan.
4. Iklan Eceran ( Retail Advertising )
Iklan ini dibuat dan disebarluaskan oleh pihak atau perusahaan dan iklan ini biasanya ditempatkan disetiap lokasi ( toko,gerai-gerai penjualan ) yang menjual produk tadi kepada konsumen. Media yang digunakan antara lain Koran mingguan dan harian local, poster-poster dipasang di kendaraan angkutan umum, iklan-iklan lapangan di area olahraga,. Kiriman pos, siaran iklan televise dan radio swasta daerah serta catalog-katalog.
5. Iklan Bersama ( Cooperative Advertising )
Misalnya dukungan iklan yang diberikan oleh pihak perusahaan kepada para pengecer. Produk-produk tersebut ini disebut kerjasama iklan secara vertical. Misalnya iklan bersama antara roti dan mentega dimana sejumlah perusahaan sejenis membuat iklan bersama ini disebut kerjasama iklan secara horizontal.
6. Iklan Keuangan ( Financial Advertising )
Iklan ini meliputi iklan-iklan untuj Bank, jasa tabungan,asuransi dan investasi. Tujuannya untuk menghimpun dana pinjaman atau penawaran modal, baik dalam bentuk asuransi, penjualan saham obligasi, surat utang atau dana pensiun. Media yang digunakan tergantung dari khalayak yang hendak dituju misalnya televisi, Koran-koran dan majalah bisnis.
7. Iklan Retruitmen ( Recruitment Advertising )
Iklan bertujuan merekrut calon pegawai dan bentuknyaantara lain iklan kolom yang menjanjikan, kerahasiaan pelamar atau iklan selebaran biasa.
Sifat Iklan menurut Kotler
Kotler ( 2003 : 643 ) menjelaskan bahwa sifat-sifat dari iklan itu adalah sebagai berikut :
1. Presentasi Umum
Iklan adalah cara komunikasi yang sangat umum. Sifatnya yang umum itu memberi semacam keabsahan produk dan penawaran yang terstandarisasi karena banyak orang menerima pesan yang sama, pembeli tahu bahwa motif mereka untuk membeli produk tersebut akan dimaklumi oleh umum
2. Tersebar Luas
Iklan adalah medium berdaya sebar luas yang memungkinkan penjual mengulang suatu pesan berkali-kali. Iklan juga memungkinkan pembeli menerima dan membandingkan pesan dari berbagai pesan.
3. Ekspresi yang Lebih kuat
Iklan memberikan peluang untuk mendramatisasi perusahaan dan produknya melalui penggunaan cetakan, suara dan warna yang penuh seni.namun kadang-kadang kemapuan berekspresi yang terlalu berhasil dari iklan dapat memperlemah pesan atau mengalihkan perhatian dari pesan.
4. Tidak Bersifat Pribadi
Iklan tidak memiliki kemampuan memaksa seperti wiraniaga perusahaan. Audiens tidak merasa wajib memperhatikan atau menanggapi. Iklan hanya mampu melakukan monologi, bukan dialog dengan audiens.
Langganan:
Postingan (Atom)