Tampilkan postingan dengan label SDM EI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SDM EI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2010

Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional (EQ)

Di postingan sebelumnya telah dijelaskan mengenai pengertian kecerdasan emosi dan arti penting kecerdasan emosi. Dari beberapa alasan kenapa pentingnya kecerdasan emosional dalam menata kehidupan dan meraih kesuksesan maka tiba saatnya kita untuk meningkatkan kecerdasan emosional.
Setelah membaca beberapa sumber kami mendapatkan cara bagaimana kecerdasan emosi dapat kita tinggkatkan. Ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan sebagai langkah awal guna meningkatkan kecerdasan emosi. Dua ahli EQ (Emotional Quotient), Salovey & Mayer (1990) – pengembang konsep EQ, jauh sebelum Goleman – merangkumnya menjadi lima aspek berikut ini : a. kesadaran diri (self awareness), b. mengelola emosi (managing emotions), c. memotivasi diri sendiri (motivating oneself), d. empati (emphaty) dan e. menjaga relasi (handling relationship). Seperti halnya Peter dan Salovey, pada mulanya Daniel Goleman pun menyebut 5 dimensi guna mengembangkan kecerdasan emosi yaitu a. Penyadaran Diri, b. Mengelola Emosi, c. Motivasi Diri, d. Empati dan e. Ketrampilan Sosial. Dalam buku terbarunya yang membahas kompetensi EQ, “The emotionally Intelligent Workplace” Goleman menjelaskan bahwa perilaku EQ tidak bisa hanya dilihat dari sisi setiap kompetensi EQ melainkan harus dari satu dimensi atau setiap cluster-nya. Kemampuan penyadaran social (social awareness) misalnya tidak hanya tergantung pada kompetensi empati semata melainkan juga pada kemampuan untuk berorientasi pelayanan dan kesadaran akan organisasi. Dikatakannya pula ada kaitan antara dimensi EQ yang satu dengan lainnya. Jadi tidaklah mungkin memiliki ketrampilan sosial tanpa memiliki kesadaran diri, pengaturan diri maupun kesadaran sosial.
Beberapa cara yang dipaparkan di atas, ada beberapa yang juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan emosional, yaitu:
A. Mengenali emosi diri
Ketrampilan ini meliputi kemampuan Anda untuk mengidentifikasi apa yang sesungguhnya Anda rasakan. Setiap kali suatu emosi tertentu muncul dalam pikiran, Anda harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan. Berikut adalah beberapa contoh pesan dari emosi: takut, sakit hati, marah, frustasi, kecewa, rasa bersalah, kesepian
B. Melepaskan emosi negatif
Ketrampilan ini berkaitan dengan kemampuan Anda untuk memahami dampak dari emosi negatif terhadap diri Anda. Sebagai contoh keinginan untuk memperbaiki situasi ataupun memenuhi target pekerjaan yang membuat Anda mudah marah ataupun frustasi seringkali justru merusak hubungan Anda dengan bawahan maupun atasan serta dapat menyebabkan stres. Jadi, selama Anda dikendalikan oleh emosi negatif Anda justru Anda tidak bisa mencapai potensi terbaik dari diri Anda. Solusinya, lepaskan emosi negatif melalui teknik pendayagunaan pikiran bawah sadar sehingga Anda maupun orang-orang di sekitar Anda tidak menerima dampak negatif dari emosi negatif yang muncul.
C. Mengelola emosi diri sendiri
Anda jangan pernah menganggap emosi negatif atau positif itu baik atau buruk. Emosi adalah sekedar sinyal bagi kita untuk melakukan tindakan untuk mengatasi penyebab munculnya perasaan itu. Jadi emosi adalah awal bukan hasil akhir dari kejadian atau peristiwa. Kemampuan kita untuk mengendalikan dan mengelola emosi dapat membantu Anda mencapai kesuksesan. Ada beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri, yaitu : Pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada Anda. Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya. Ketiga adalah dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya. Kemampuan kita mengelola emosi adalah bentuk pengendalian diri yang paling penting dalam manajemen diri, karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi atau perasaan kita, bukan sebaliknya.
D. Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional–menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati–adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Ketrampilan memotivasi diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki ketrampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.
E. Mengenali emosi orang lain
Mengenali emosi orang lain berarti kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan orang lain. Penguasaan ketrampilan ini membuat kita lebih efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang disebut sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti. Ketrampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan dengan manusia secara efektif.
F. Mengelola emosi orang lain
Jika ketrempilan mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam berhubungan antar pribadi, maka ketrampilan mengelola emosi orang lain merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antar manusia. Ketrampilan mengelola emosi orang lain merupakan kemampuan yang dahsyat jika kita dapat mengoptimalkannya. Sehingga kita mampu membangun hubungan antar pribadi yang kokoh dan berkelanjutan. Dalam dunia industri hubungan antar korporasi atau organisasi sebenarnya dibangun atas hubungan antar individu. Semakin tinggi kemampuan individu dalam organisasi untuk mengelola emosi orang lain.
G. Memotivasi orang lain.
Ketrampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari ketrampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Ketrampilan ini adalah bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerja sama tim yang tangguh dan andal.

Kamis, 08 Juli 2010

EQ (EMOTIONAL QUOTIENT)



EMOSI adalah letupan perasaan seseorang.

PENGERTIAN EQ (Emotional Quotient) / kecerdasan emosi :
1. Kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik, dan berhubungan dengan orang lain (DANIEL GOLEMAN).
2. Kemampuan mengerti dan mengendalikan emosi (PETER SALOVELY & JOHN MAYER).
3. Kemampuan mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan, keta- jaman, emosi sebagai sumber energi, informasi, dan pengaruh (COOPER & SYAWAF).
4. Bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan adaptasi sosial (SEAGEL).

ASPEK EQ (SALOVELY & GOLDMAN) ADA LIMA :
1. Kemampuan mengenal diri (kesadaran diri).
2. Kemampuan mengelola emosi (penguasaan diri).
3. Kemampuan motivasi diri.
4. Kemampuan mengendalikan emosi orang lain.
5. Kemampuan berhubungan dengan orang lain (empati).

PRILAKU CERDAS EMOSI :
• - Menghargai emosi negatif orang lain.
• - Sabar menghadapi emosi negatif orang lain.
• - Sadar dan menghargai emosi diri sendiri.
• - Emosi negatif untuk membina hubungan.
• - Peka terhadap emosi orang lain.
• - Tidak bingung menghadapi emosi orang lain.
• - Tidak menganggap lucu emosi orang lain.
• - Tidak memaksa apa yang harus dirasakan.
• - Tidak harus membereskan emosi orang lain.
• - Saat emosional adalah saat mendengatkan

EQ TINGGI ADALAH :
• - Berempati.
• - Mengungkapkan dan memahami perasaan.
• - Mengendalikan amarah.
• - Kemandirian.
• - Kemampuan menyesuaikan diri.
• - Disukai.
• - Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi.
• - Ketekunan.
• - Kesetiakawanan.
• - Keramahan.
• - Sikap hormat.

Emotional Quotient (EQ) mempunyai peranan penting dalam meraih kesuksesan pribadi dan profesional. EQ dianggap sebagai persyaratan bagi kesuksesan pribadi. Alasan utamanya adalah masyarakat percaya bahwa emosi-emosi sebagai masalah pribadi dan tidak memiliki tempat di luar inti batin seseorang juga batas-batas keluarga.

Penting bahwa kita perlu memahami apa yang diperlukan untuk membantu kita membangun kehidupan yang positif dan memuaskan, karena ini akan mendorong mencapai tujuan-tujuan PROFESIONAL kita.

Dr. DANIEL GOLEMAN memberikan satu asumsi betapa pentingnya peran EQ dalam kesuksesan pribadi dan profesional :
• - 90% prestasi kerja ditentukan oleh EQ.
• - Pengetahuan dan teknis hanya berkontribusi 4%.

Dari banyak penelitian didapatkan hasil atau pendapat bahwa individu yang mempunyai IQ tinggi menunjukkan kinerja buruk dalam pekerjaan, sementara yang ber-IQ rendah justru sangat perprestasi. Hal ini dikarenakan individu yang mempunyai IQ tinggi seringkali memiliki sifat-sifat menyesatkan sebagai berikut :
• - Yakin tahu semua hal.
• - Sering menggunakan pikiran untuk menalar bukan untuk merasakan.
• - Meyakini bahwa IQ lebih penting dari EQ.
• - Sering membuat prioritas-prioritas yang merusak kesehatan kita sendiri.

Kemampuan akademik, nilai raport, predikat kelulusan perguruan tinggi tidak bias menjadi tolak ukur seberapa baik kinerja seseorang sesudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang akan dicapai.

Menurut MICK CLELLAND tahun 1973 “TESTING FOR COMPETENCE”, bahwa seperangkat percakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif akan menghasilkan ORANG-ORANG YANG SUKSES DAN BINTANG-BINTANG
KINERJA.

MEMBANGUN BENTENG UNTUK MENCAPAI KETERAMPILAN EMOSIONAL (Dr. PATRICIA PATTON) :
1. Paham pentingnya peran emosi dan pemahaman yang memungkinkan anda merasakan perbedaan besar dalam bagaimana kita mengendalikan emosi. Ini terjadi ketika merasakan gembira yang sangat karena intensitas dan rentang emosi, di mana kita overt control terhadap impuls untuk merasakannya. Ini dapat mencegah masyarakat untuk tidak lagi saling berbagi dan menghormati perasaan orang lain.
2. Mengekspresikan kenyataan bahwa tidak seorang pun memiliki perasaan yang sama tentang persoalan yang serupa. Menerima perbedaan merupakan masalah di masyarakat yang mengharapkan setiap orang dapat bertindak seperti itu.
3. Mengekang emosi adalah tindakan tidak sehat dan dapat mengarahkan kita kedalam cara-cara yang negatif. Yang paling baik adalah menyalurkan emosi secara wajar dan bertahap.
4. Mempertajam intuisi pemecahan masalah ketika menghadapi suatu masalah yang kita tidak mungkin dapat mengontrolnya. Ini bermanfaat untuk memahami perbedaan antara pengaruh dan kontrol. Ada beberapa hal kita dapat memengaruhi masyarakat dan beberapa situasi, tetapi dapat juga terjadi kemungkinan bahwa masyarakat yang ingin mengendalikan segalanya.
5. Mengetahui keterbatasan diri sendiri dan tahu kapan kita perlu mengubah strategi.
6. Memungkinkan orang lain menjadi diri sendiri, tanpa memaksakan harapan kita pada mereka.
7. Mengetahui diri sendiri dan menghargai potensi yang kita miliki bagi pertumbuhan pribadi.
8. Mengetahui pentingnya kasih sayang, perhatian dan berbagi bersama.

ROBERT K. COOPER, PH.D DAN AYMAN SAWAF, Meningkatkan kecerdasan emosi dengan “masuk kedalam hati dan keluar dari fikiran” ;

Dengan meluangkan waktu dua atau tiga menit dan bangun tidur lima menit lebih awal dari biasanya, duduklah dengan tenang, keluarlah dari pikiran anda, kemudian masuklah pada suara-suara hati anda, tuliskan apa yang anda rasakan. Dengan cara-cara ini mudah-mudahan dengan secara langsung akan mendatangkan kejujuran emosi (hati), berikut kebijakan yang terkait, dan membawanya ke permukaan sehingga anda dapat menggunakannya secara efektif. Lebih jauh suara-suara hati ini akan memberi makna pada hari-hari panjang anda dan akan membawa pada kesiapan batin untuk menjalani kehidupan.