Jumat, 19 November 2010

Perlukah penelitian menggunakan Hipotesis?

Perlukah penelitian menggunakan Hipotesis?
1. YA
untuk penelitian verifikatif yg berpola “masalah hipotesis-data-analisis-kesimpulan”
2. TIDAK
Untuk penelitian Eksploratif dan deskriptif

(Moh. Nazir, Ph.D, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, 2003, hal.150)

TIPE – TIPE SAMPLING

a. Sampling Peluang (Probabilistic Sampling)
Pada saat pemilihan satuan sampling melibatkan unsur peluang untuk terpilih.
 Sampling Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
 Sampling dengan Strafikasi (Stratified Random Sampling)
 Sampling Sistematik (Systematic Sampling)
 Klaster Sampling (Cluster Sampling)
b. Sampling Non Peluang (Non Probabilistic Sampling)
Dalam proses pemilihan satuan sampling tidak melibatkan peluangnya. Pada sampling ini analisis statistika inferensial tidak dapat digunakan.
Beberapa sampling non peluang :
1. Sampling Sukarela (Voluntary Sampling). Satuan sampling diperoleh secara sukarela, contohnya dibidang kedokteran.
2. Sampling Seadanya (Accidental Sampling / Haphazard Sampling). Sampling ini satuan samplingnya diperoleh secara sembarangan, contohnya penelitian dibidang arkeologi.
3. Purposive Sampling (Judgement Sampling / Expert Choice). Dalam sampling ini pemilihan satuan sampling dilakukan atas dasar pertimbangan pakar Contohnya : untuk menyusun Indeks Biaya Hidup terkait dengan biaya makan untuk sehari, biaya listrik bulanan, dll.
4. Snowball Sampling. Untuk penelitian penyakit kelamin satuan samplingnya WTS. Jika ditemukan orang pertama menderita penyakit kelamin, kemudian ditanyakan nama yang lainnya.
5. Quota Sampling. Tipe sampling ini banyak digunakan dalam marketing research dan dalam polling pendapat.

Metode Sampling Berdasarkan Sifat Populasinya.

Metode sampling acak yang telah diuraikan di atas, akan baik jika kita berhadapan dengan populasi yang bersifat homogen, yaitu populasi yang keadaannya berada pada suatu penyebab yang sama atau serupa secara kualitatif.
Untuk kedaan populasi yang tidak homogen atau heterogen, metode sampling yang dapat digunakan diantaranya;
a. Sampling Petala/Stratifikasi
Untuk keadaan populasi yang bersifat heterogen, biasanya populasi tersebut dikelompokkan menjadi beberapa strata atau petala atau lapisan, dimana pembuatan strata ditentukan supaya objek dalam setiap petala bersifat homogen atau mempunyai karakteristik yang hampir sama, kemudian dari setiap petala tersebut sampel diambil secara acak.
Biasanya ukuran sampel dalam setiap petala ditentukan dengan menggunakan sampling proporsional, artinya banyaknya anggota setiap petala yang diambil harus sebanding dengan ukuran populasinya.
b. Sampling Klaster
Untuk metode sampling klater, populasi dibagi menjadi beberapa bagian atau klaster, secara acak diambil beberapa klaster, sehingga anggota sampling yang diperoleh merupakan anggota dari klaster yang terpilih (Klaster yang terdapat pada batas-batas yang lebih hitam).
c. Sampling Sistematik
Pengambilan sampel dalam sampling sistematik dilakukan pada jarak atau selang waktu tertentu. Biasanya sampling ini lebih sering digunakan untuk meneliti keadaan populasi yang anggota populasinya telah berurut. Misalnya meneliti pendapatan masyarakat pada suatu kompleks perumahan tertentu, atau ingin meneliti tingkatan mutu hasil produksi berdasarkan urutan produksi.

Sampling Peluang

Dalam metode sampling ini pengambilan unit sampling ditentukan dengan memperhatikan unsur-unsur peluang, sehingga jika setiap anggota populasi mempunyai nilai peluang yang sama untuk dijadikan anggota sampling, maka sampling demikian biasa disebut dengan sampling acak, yaitu sampling yang dilakukan dengan cara objektif untuk menilai presisi hasil penelitian. Biasanya hasil sampling demikian akan dapat diperhitungkan penaksiran besarnya variasi sampling atau kekeliruan sampling, yaitu merupakan perbedaan antara statistik sampel dengan parameter populasi.
Batasan sampling acak tersebut seolah-olah hanya mungkin dilakukan jika kita berhadapan dengan ukuran populasi yang bersifat berhingga, oleh karena itu jika kita berhadapan dengan ukuran populasi tak berhingga, maka pengambilan anggota sampel harus dilakukan sedemikian rupa sehingga pada tiap tingkatan sampling setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan anggota sampel.
Untuk anggota populasi yang kecil, maka pelaksanaan sampling acak dapat dilakukan dengan melakukan sistem undian atau sistem arisan, tetapi jika anggota populasi besar, maka cara pengambilan sampel acak dapat digunakan dengan menggunakan daftar bilangan acak.

Sampling Nonpeluang

a. Sampling seadanya
Istilah lain untuk sampling ini adalah convenience sampling , accidental sampling dan haphazard sampling. Cara ini ditempuh untuk kemudahan penelitian dengan tidak memperhitungkan tingkat kerepresentatipan metode sampling. Walaupun cara sampling ini sah, tetapi kesimpulan yang harus diambil harus hati-hati karena kesimpulan yang didapat bersifat kasar.
b. Sampling Purposif
Cara sampling ini ditempuh berdasarkan pertimbangan peneliti. Cara sampling ini akan lebih bagus jika dipertimbangkan oleh seorang pakar, dan biasanya cara sampling ini sering digunakan pada penelitian studi kasus.
Apabila penentuan anggota sampel dilakukan atas dasar pertimbangan petugas lapangan, maka sampling demikian biasa disebut dengan sampling kuota.
c. Sampling Sukarela ( Voluntary Sampling )
Untuk sampling ini objek yang diteliti atas dasar kerelaan dari objek yang diteliti.

d. Snow Ball sampling
Cara sampling ini dilaksanakan seperti halnya bola salju yang menggelinding dari puncak gunung salju yang semakin bawah bentuk bolanya semakin besar.
Biasannya Snow Ball Sampling dilakukan dimana si peneliti sendiri tidak yakin bahwa dia akan menperoleh anggota sampel yang sesuai dengan populasi sasarannya, kemudian ia mencoba mencari sebuah anggota populasi sasaran yang selanjutnya dari anggota sasaran yang diteliti, peneliti meminta informasi untuk mendapatkan anggota populasi sasaran yang lainnya.
e. Quota Sampling
Penentuan objek penelitian dalam sampling ini ditentukan oleh petugas lapangan (surveyor), di mana tentunya surveyor menentukan objek penelitian yang akan dia pilih berdasarkan tetapan yang telah ditentukan dalam batasan populasi sasaran.
Metode sampling yang telah disebutkan di atas merupakan sampling non peluang, sehingga dalam menarik kesimpulan melalui metode sampling tersebut tidak dapat menggeneralisasikan populasi yang sedang diteliti, sehingga metode sampling tersebut hanya dapat digunakan untuk keperluan praktis dan kesimpulan yang diperoleh bersifat sementara atau kasar.

Beberapa Cara Sampling atau Metode Sampling

Cara sampling untuk kegiatan penelitian dapat dilakukan melalui dua cara pengambilan sampel, yaitu cara sampling dengan pengembalian, artinya objek yang sudah diteliti dapat digunakan sebagai anggota sampling pada penelitian berikutnya. Apabila populasi berukuran N dan sampling akan diambil sebanyak n, maka pada sampling dengan cara pengembalian, kemungkinan banyaknya sampel sebesar Nn.
Cara sampling yang lain merupakan sampling dengan cara tanpa pengembalian, artinya objek yang sudah disampling tidak digunakan sebagai anggota sampling pada penelitian berikutnya. Untuk cara sampling ini banyaknya kemungkinan sampel yang terjadi adalah . Pada prakteknya, cara sampling tanpa pengembalian lebih sering digunakan karena cara ini akan memberikan tingkat kerepresentatifan yang lebih baik.
Kecuali diperhatikan cara pengambilannya, metode sampling dapat juga diperhatikan dengan memperhatikan keberadaan sampling frame ( daftar seluruh anggota yang akan dijadikan objek penelitian ), sehingga jika peneliti mempunyai sampling frame, maka peneliti dapat memperhitungkan nilai peluang objek penelitian akan terpilih menjadi anggota sampling, tetapi jika peneliti tidak mempunyai sampling frame, maka penentuan anggota sampel yang diteliti dipilih dengan tidak memperhitungkan nilai peluang dan lebih umum dinamakan sampling nonpeluang yang masing-masing dapat diuraikan berikut ini.

Rencana Sampling

Jika penelitian telah disepakati akan dilakukan dengan cara sampling, hendaknya sampling perlu direncanakan dengan baik, sehingga dalam penelitian yang menggunakan sampling perlu diperhatikan hal-hal berikut ini :
a. Rumuskan persoalan yang akan diteliti,
b. Tentukan dengan jelas batasan objek penelitian ( populasi sasaran ) untuk persoalan yang ingin diketahui tersebut,
c. Definisikan dengan jelas berbagai istilah yang akan digunakan,
d. Tentukan unit sampling yang diperlukan. Unit sampling adalah satuan terkecil yang menjadi anggota populasi. Misalnya untuk mengetahui pola konsumsi masyarakat, maka yang menjadi unit samplingnya harus ditentukan apakah keluarga atau perorangan sebagai anggota keluarga.
e. Tentukan dan rumuskan cara-cara pengukuran dan penilaian yang akan dilakukan. Misalkan ingin mengetahui potensi manajer sebuah koperasi, ukuran apa yang akan digunakan untuk penilaiannya. Samakah seorang manajer yang berpengalaman sepuluh tahun tanpa jenjang pendidikan formal dengan manajer yang baru berpengalaman satu tahun tetapi mempunyai pendidikan formal manajemen perkoperasian?
f. Jika ada kumpulkan segala keterangan mengenai hal-hal yang ingin diteliti dan pernah diteliti.
g. Tentukan resiko kekeliruan atau bias yang masih dapat diterima.
h. Tentukan ukuran sampel yang akan diteliti.
i. Tentukan cara sampling yang akan digunakan.
j. Tentukan cara pengumpulan data yang akan dilakukan, apakah pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung, menyebarkan quesioner, melakukan pengamatan dilapangan ( observasi ) atau mencatat data yang sudah ada.
k. Tentukan metode analisis yang akan digunakan.
l. Sediakan biaya secukupnya
m. Konsultasilah dengan pakar sebagai nara sumber dalam kegiatan penelitian.